fbpx

Akibat Stres bagi Tubuh Anda, Apa Saja?

by | Sep 16, 2020 | Gaya Hidup Sehat | 0 comments

Stres merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi situasi yang mengancam, tertekan, dan mengalami perubahan tidak terduga. Kondisi stres ini dapat dialami semua orang. Penyebab stres ada bermacam-macam, mulai dari pekerjaan, masalah keuangan, keluarga, atau hal sepele seperti telat ujian. Hal-hal kecil tersebut akan memicu respons tubuh dan membuat membuat tensi Anda sedikit naik serta detak jantung meningkat. Meski lumrah terjadi, Anda perlu mengelola stres guna mencegah timbulnya masalah yang lebih serius. Memang, apa sih akibat atau dampak stres bagi tubuh ini?

 

Ciri-ciri stres yang dapat muncul

Saat seseorang menghadapi situasi yang mengancam, tubuh akan melepaskan hormon stres, yaitu kortisol dan adrenalin. Reaksi ini sebenarnya diperlukan untuk membantu seseorang menghadapi situasi yang berbahaya, sehingga bisa keluar dari situasi tersebut.

Umumnya, stres bersifat sementara dan tidak selalu memberikan dampak buruk. Begitu ancaman dan situasi yang menyebabkan tekanan tersebut telah Anda lewati, stres akan hilang. Lain halnya jika stres yang Anda alami kerap muncul dan berlangsung lama. 

Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik serta melemahkan daya tahan tubuh. Selain itu, stres juga dapat mengganggu sistem pencernaan dan reproduksi, serta menurunkan kualitas tidur.

 

Gejala stres

Ciri-ciri stres yang muncul pada tiap orang pastinya berbeda-beda, tergantung pemicunya. Tanda dan gejala stres ini dibagi menjadi:

  • Emosional: mudah marah, frustasi, suasana hati yang mudah berubah atau moody, rendah diri. Anda pun bisa merasa kesepian, tidak berguna, bingung, dan hilang kendali, hingga tampak bingung, menghindari orang lain, serta depresi.
  • Fisik: lemas, pusing, migrain, sakit kepala tegang, mual, diare, sembelit, nyeri otot, jantung berdebar, gangguan tidur, gangguan menstruasi, hasrat seksual menurun, tubuh gemetar, tangan dan kaki berkeringat, atau mulut kering dan sulit menelan. 
  • Kognitif: sering lupa, sulit fokus, pesimis, berpikiran negatif, dan membuat keputusan yang tidak baik.
  • Perilaku: tidak mau makan, menghindari tanggung jawab, menggigit kuku, berjalan bolak-balik, dan sikap gugup lainnya.

 

Akibat stres bagi kesehatan tubuh Anda

Saat Anda mengalami stres, semua sistem dalam tubuh akan memberikan respons-nya. Idealnya, reaksi tubuh saat stres diperlukan untuk membantu Anda keluar dari kondisi tersebut. Tapi, respons ini dapat berubah menjadi masalah kalau stres tidak dikendalikan. 

 

1. Sistem saraf pusat dan endokrin

Sistem saraf pusat bertanggung jawab menghasilkan respons “fight-or-flight” dengan memberikan perintah ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres. Selanjutnya, kortisol dan adrenalin menstimulasi hati untuk mengeluarkan gula lebih banyak ke dalam darah sebagai sumber energi. 

Bila tubuh Anda tidak menggunakan semua energi tambahan ini, gula darah akan diserap kembali. Namun, hal tersebut tidak akan terjadi pada orang obesitas dan diabetes tipe 2. Gula yang tidak diserap mengakibatkan kadar gula darah meningkat. 

Selain gula darah, pelepasan hormon stres pun akan memicu detak jantung dan napas menjadi lebih cepat, pembuluh darah di lengan dan kaki yang melebar. Semua reaksi tubuh ini akan kembali normal ketika situasi mengancam yang Anda alami sudah berlalu.

Berdasarkan penjelasan dr. Irma Lidia, tim dokter Jovee, kortisol merupakan hormon yang memainkan peran penting saat seseorang sedang stres dengan:

  • Mengatur tubuh dalam menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein
  • Menurunkan peradangan
  • Mengendalikan tekanan darah
  • Meningkatkan gula darah (glukosa)
  • Mengontrol siklus tidur-bangun 
  • Memberikan energi tambahan untuk mengatasi stres

“Kortisol juga akan memulihkan keseimbangan setelah stres. Tapi, bila kita mengalami stres terus menerus, kortisol dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk kecemasan dan depresi, sakit kepala, penyakit jantung, gangguan memori dan konsentrasi, gangguan pencernaan, kesulitan tidur, dan penambahan berat badan.” tambah dr. Irma.

 

2. Sistem pernapasan

Napas lebih cepat merupakan respons stres yang normal. Percepatan napas ini bertujuan untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini mungkin tidak masalah bagi banyak orang, tetapi bisa menyebabkan gangguan pada penderita asma atau emfisema. Dampak stres terhadap percepatan napas atau hiperventilasi tersebut juga dapat menyebabkan serangan panik.

 

3 Sistem kardiovaskular

Peran sistem kardiovaskular dalam merespons stres adalah mempercepat denyut jantung, melebarkan pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah dan volume darah yang dialirkan ke seluruh tubuh. Peningkatan aliran darah dibutuhkan untuk membantu menyediakan energi.

Sayangnya, stres yang berlangsung lama bisa memperbesar risiko hipertensi, serangan jantung, hingga stroke karena detak jantung yang tidak konsisten. Inilah sebabnya Anda perlu mengelola stres guna mencegah penyakit jantung.

 

4. Sistem pencernaan

Detak jantung dan pernapasan yang lebih cepat dapat mengganggu sistem pencernaan Anda. Biasanya, orang yang sedang mengalami stres akan makan lebih banyak atau lebih sedikit dari normalnya. Perilaku ini memungkinkan Anda mengalami heartburn alias rasa terbakar di ulu hati, naiknya asam lambung, mual, muntah, serta sakit perut. Efek negatif lain dari stres adalah pergerakan makanan dalam usus yang terganggu. Alhasil, Anda dapat mengalami diare dan sembelit.

 

5. Sistem otot rangka

Otot-otot Anda akan menegang saat stres. Respons ini bisa berbahaya apabila stres yang Anda alami berkepanjangan. Menegangnya otot tersebut dapat mengarah kepada masalah fisik, misalnya sakit kepala, nyeri punggung, serta nyeri di seluruh tubuh.

 

6. Sistem reproduksi

Akibat stres kronis pada wanita dapat berupa terganggunya siklus menstruasi. Ketika stres, Anda mungkin mengalami haid yang tidak teratur, bahkan tidak mengalami menstruasi sama sekali, atau mengalami perdarahan yang lebih berat.

Bukan cuma wanita, pria pun bisa merasakan efek negatif dari stres terhadap tubuhnya. Pada pria, stres berkepanjangan dikaitkan dengan penurunan jumlah dan motilitas (pergerakan) sperma.

 

7. Sistem imun

Saat Anda stres, tubuh merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja. Jika stres yang Anda rasakan bersifat sementara, ini akan membantu tubuh Anda dalam mencegah infeksi dan penyembuhan luka. Namun, jika stres terjadi dalam waktu lama, maka tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang akan menghambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat asing. Sehingga, orang yang mengalami stres kronis akan lebih rentan untuk terkena penyakit, seperti influenza, flu biasa, atau penyakit infeksi lainnya. Stres kronis juga membuat Anda lebih lama untuk sembuh dari sakit atau cedera.

Itulah beberapa dampak yang bisa terjadi akibat stres berkepanjangan. Untuk mencegahnya, Anda tentu perlu mengendalikan stres. Beberapa cara yang cukup efektif untuk meredakan stres ialah tidur cukup, olahraga rutin, serta konsumsi makanan kaya nutrisi seperti vitamin B.

Ingin tahu apakah gaya hidupmu sudah sehat? Unduh aplikasi Jovee! Dengan Jovee anda dapat melihat rekomendasi suplemen sesuai dengan kebutuhan personalmu. Dapatkan vitamin terbaik hanya dari Jovee.

Ditulis oleh: Alifia Daariy

Referensi:

Varnada KN (WebMD). 2015. Stress Symptoms: Effects of Stress on the Body.

American Psychological Association. 2016. Stress Effects on the Body.

Ann P (Healthline). 2014. The Effects of Stress on the Body.

Beli di Aplikasi Jovee

Aplikasi Jovee berbasis data science.
Cukup jawab beberapa pertanyaan, dan Jovee akan merekomendasikan beberapa paket sesuai kebutuhan dan gaya hidup Anda

Belanja di Jovee Shop

Jovee Shop menawarkan paket suplemen dalam bentuk sachet untuk konsumsi 30 hari atau 7 hari. Suplemen dari Jovee adalah suplemen terbaik, asli dan berlisensi dari partner domestik dan internasional