fbpx

Ini Alasan Nyeri Sendi Lebih Sering Terjadi pada Wanita

by | Aug 13, 2020 | Kesehatan Lainnya | 0 comments

Nyeri sendi adalah keluhan yang sangat umum di kalangan lansia. Meskipun begitu, tidak jarang juga orang usia produktif yang mengeluhkan nyeri sendi. Rasa sakit dan tidak nyaman yang dapat menyerang persendian di seluruh tubuh ini bisa menjadi gejala dari suatu kondisi medis, seperti peradangan sendi atau arthritis. 

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit sendi di Indonesia mencapai 3,1% pada usia 25-34 tahun dan meningkat pada usia 35-44 tahun, yaitu sebanyak 6,3%, 15% pada usia 45-54 tahun, serta 15,5% pada usia 55-64 tahun.

Keluhan nyeri ini paling sering terlihat pada wanita paska menopause, khususnya usia lebih dari 50 tahun, seperti yang tercatat di Riskesdas 2018 bahwa angka kejadian penyakit sendi pada wanita mencapai 8,5%.

 

Kenapa nyeri sendi lebih sering ditemukan pada wanita?

Dikutip dari penelitian Ringgo Alfarisi tahun 2018 di Lampung, osteoarthritis merupakan penyakit persendian yang kasusnya paling umum dijumpai secara global. Osteoarthritis atau pengapuran sendi, terjadi karena kerusakan pada tulang rawan sendi dan menjadi kontributor nyeri sendi pada usia > 45 – 50 tahun.

Kebanyakan wanita akan mengalami menopause pada usia di atas 40 – 50 tahun. Sebagian besar wanita yang sedang berada di fase menopause mengalami ketidaknyamanan, seperti sering gerah dan berkeringat di malam hari, bahkan nyeri sendi. 

Karena umum terjadi pada usia lanjut dan wanita, itulah sebabnya nyeri sendi sering dikatakan berhubungan dengan menopause. Padahal, sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara nyeri sendi dan menopause. 

Gejala dan derajat arthritis pada wanita cenderung lebih berat daripada pria. Wanita dengan arthritis lebih sering mengeluhkan sulit tidur, stres, aktivitas jadi terhambat hingga depresi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti hormon, riwayat cedera, genetik, dan perbedaan anatomi.

 

Hubungan hormon dan peradangan sendi

Saat menopause, wanita memang dapat merasakan keluhan nyeri sendi dan makin parah seiring berjalannya waktu. Hal ini bisa dipengaruhi oleh menurunnya kadar hormon estrogen.

Beberapa peneliti meyakini bahwa hormon estrogen dapat mencegah peradangan dan kerusakan tulang rawan. Estrogen berperan dalam membantu mengontrol peradangan. Kalau kadarnya di dalam tubuh berkurang, bisa menyebabkan terjadinya peradangan dan mengarah pada nyeri sendi hingga arthritis. 

Richmond, dalam penelitiannya, menyatakan adanya reseptor hormon estrogen di tulang rawan sendi. Sedangkan studi Zhang, dkk menunjukkan penurunan risiko arthritis lutut pada wanita paska menopause yang diberikan terapi hormon estrogen yang didokumentasikan lewat hasil radiografi. 

Sayangnya, cara kerja hormon ini terhadap pencegahan terjadinya arthritis ini belum diketahui lebih lanjut. Sampai saat ini, peneliti masih berusaha mencari tahu lebih lanjut  hubungan antara hormon, usia puber, kehamilan, serta terapi hormon dengan risiko arthritis.

Turunnya kadar estrogen ini juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada wanita karena massa otot yang berkurang sehingga kemungkinan patah tulang juga makin tinggi.

 

Genetik dan imunitas juga bisa menjadi faktor penyebab 

Walaupun radang sendi merupakan penyakit degeneratif (berhubungan dengan penuaan), seseorang berisiko untuk mengalaminya apabila ia memiliki keturunan yang juga menderita arthritis. 

Beberapa jenis peradangan sendi dapat disebabkan oleh gangguan autoimun, yaitu keadaan dimana tubuh salah mengenali penyakit menjadi jaringan yang sehat. Gangguan autoimun ini cenderung diderita wanita. Namun, belum ada penelitian yang menjelaskan alasannya.

 

Perbedaan anatomi dan tekanan berlebih pada lutut

Wanita dan pria memiliki anatomi yang berbeda. Perbedaan ini termasuk tulang paha wanita yang lebih sempit, tempurung lutut lebih tipis, dan volume tulang rawan lebih sedikit. Hal ini bisa meningkatkan risiko kerusakan tulang rawan yang lebih besar daripada pria.

Wanita juga cenderung berisiko untuk mengalami cedera ligamen anterior cruciate (ACL) yang biasanya ditunjukkan dengan gejala berupa tulang memar. Kondisi ACL ini akan meningkatkan risiko osteoarthritis.

Selain anatomi, risiko radang sendi pada lutut juga bisa ditingkatkan akibat tekanan berlebih yang ditumpu oleh lutut. Misalnya ketika wanita hamil, lutut akan menopang beban ekstra dari ibu dan calon bayi di dalam kandungan.  

 

Penanganan radang sendi

Rekomendasi treatment radang sendi ada bermacam-macam tergantung pada derajat keparahannya, mulai dari modifikasi aktivitas, obat anti peradangan, sampai operasi. Penanganan non-operasi bisa termasuk olahraga penguatan paha dan penggunaan brace atau penyangga lutut. 

Menurut dr. Irma Lidia, tim dokter Jovee, olahraga bisa membantu menguatkan otot-otot di sekitar persendian yang sakit, meningkatkan keseimbangan, dan menjaga kekuatan tulang sehingga nyeri dapat berkurang serta fungsi alat gerak pun meningkat pada penderita arthritis dengan tingkat keparahan ringan. 

The American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS) juga menyarankan untuk menurunkan berat badan. Dengan berolahraga, berat badan Anda tentu akan terjaga atau bahkan turun. 

“Mulailah dengan gerakan yang mudah jika Anda sudah lama tidak berolahraga, dan berhenti bila sendi terasa nyeri.” tambah dr. Irma.

Penggunaan brace bertujuan untuk mengurangi pembengkakan, menjaga stabilitas, dan membantu meringankan beban tubuh yang ditopang lutut.

Selain itu, nyeri sendi juga bisa dikurangi dengan pemberian obat anti radang dan anti nyeri, seperti suplemen glucosamine dan chondroitin, serta suntik asam hialuronat ke dalam sendi. Sedangkan operasi baru dilakukan jika sendi sudah rusak total dengan menggantinya dengan sendi buatan.

Untuk meminimalkan risiko nyeri dan radang sendi, mulailah atur pola makan dan gaya hidup sehat. Walaupun bersifat degeneratif, berat badan yang dijaga dan olahraga teratur untuk menguatkan otot-otot kaki bisa membantu mengurangi risiko nyeri sendi.

Ingin mengetahui informasi kesehatan terpercaya? Daftarkan email anda di Ngovee. Untuk mendapatkan suplemen dan vitamin spesial buat anda, unduh aplikasi Jovee. Tersedia melalui Google Play Store maupun App Store.

 

Ditulis oleh: Alifia Daariy

Referensi:

  1. Kristen W. 2011. Is There a Link Between Menopause and Joint Pain?
  2. Hasil Utama Riskesdas 2018.
  3. Hame, S. L., & Alexander, R. A. 2013. Knee osteoarthritis in women. Current reviews in musculoskeletal medicine, 6(2), 182–187.
  4. Corey W. 2017. Does Menopause Cause Pain?
  5. Arthritis Hub. Women and arthritis.

Beli di Aplikasi Jovee

Aplikasi Jovee berbasis data science.
Cukup jawab beberapa pertanyaan, dan Jovee akan merekomendasikan beberapa paket sesuai kebutuhan dan gaya hidup Anda

Belanja di Jovee Shop

Jovee Shop menawarkan paket suplemen dalam bentuk sachet untuk konsumsi 30 hari atau 7 hari. Suplemen dari Jovee adalah suplemen terbaik, asli dan berlisensi dari partner domestik dan internasional