fbpx

Leptospirosis: Penyakit yang Harus Diwaspadai di Musim Hujan

by | Jan 6, 2021 | Kesehatan Lainnya | 0 comments

Leptospirosis adalah penyakit infeksi bakteri yang berpindah lewat urine atau cairan tubuh lainnya dari hewan terinfeksi yang menyebar di air atau tanah. Penyakit yang dikenal dengan nama “kencing tikus” ini bisa meningkat saat musim penghujan, terlebih saat bencana banjir terjadi. 

Orang-orang biasanya terkena penyakit ini setelah berjalan melalui banjir atau bermain di tengah luapan air yang tidak terbendung. Dengan mudah leptospirosis menyebar di negara yang memiliki musim hujan tinggi dan sering mengalami musibah banjir. Penyakit ini pun dinilai serius karena dapat menimbulkan gejala gagal ginjal hingga kematian. 

Bagaimana Seseorang Bisa Terjangkit Leptospirosis?

Sumber atau Medium Penyakit

Leptospirosis disebabkan infeksi bakteri yang menyerang hewan. Jenis hewan yang menyebarkannya pun beragam, mulai dari pengerat seperti tikus, anjing, ternak, dan hewan liar. 

Hewan peliharaan, khususnya anjing, bisa terjangkit penyakit ini, terutama bila mereka: 

  • Meminum sumber air yang terpapar 
  • Selaput lendirnya (kulit yang terluka) terkena kontak dengan urine, tanah terkontaminasi urine, air, makanan, hingga bekas sarang hewan yang terinfeksi
  • Gigitan hewan terinfeksi
  • Memakan organ atau bangkai hewan terinfeksi
  • Turunan dari plasenta induk ke anaknya

Bakteri leptospira yang jadi asal penyakit ini dibawa oleh hewan-hewan tersebut dan dapat disebarkan lewat urine yang umumnya terdapat di tanah. Itulah mengapa pada saat musim hujan penyakit ini lebih mudah tersebar. Air hujan memungkinkan membawa urine hewan terinfeksi ke dalam aliran air terdekat. Peluang urine menyebar pun dapat meningkat saat terjadi badai ataupun banjir. 

Proses Masuknya Penyakit ke Tubuh Manusia

Penyakit leptospirosis dapat masuk ke tubuh manusia karena paparan langsung dengan urine, yang dibawa langsung oleh air atau berpindah karena terjangan badai. Biasanya bakteri akan terbawa ke dalam aliran air sungai, danau, dan semacamnya.

Meski begitu, orang yang masuk ke dalam banjir atau air terkontaminasi tidak serta-merta terkena penyakit kencing tikus. Namun, perlu diketahui bila bakteri ini dapat masuk melalui kulit yang lecet atau luka. Selain itu, mata, hidung, dan mulut jadi jalan bagi bakteri tersebut untuk masuk ke dalam tubuh manusia. 

Leptospirosis sendiri termasuk jenis penyakit zoonosis. Dengan kata lain, penyakit ini menjangkiti hewan yang kemudian menularkannya ke manusia. Penyebaran dari manusia ke manusia dapat terjadi tapi dengan persentase yang sangat tipis.

Risiko Penyebaran

Seseorang bisa mengidap leptospirosis jika ia bekerja di luar rumah, terlebih di sawah, perkebunan, atau sering mengalami kontak dengan hewan. Penyakit ini pun dapat menyerang orang yang melakukan aktivitas rekreasi yang mengandalkan air atau tanah, seperti berenang, naik perahu, dan berkebun. 

Leptospirosis adalah penyakit yang sering datang bersama banjir atau hujan yang deras. Karenanya, orang-orang yang bersentuhan langsung dengan air bah, kali, danau, atau tanah yang terkontaminasi punya risiko terkena penyakit leptospirosis.

Menurut laman CDC, ada beberapa aktivitas yang menyebabkan risiko seseorang terjangkit leptospirosis naik, di antaranya:

  • Meminum air dari sumber yang kemungkinan besarnya terkontaminasi. Sumber tersebut termasuk air bah atau banjir, kali, sungai, atau air keran yang tidak bersih.
  • Mandi, berenang, atau menembus banjir atau air yang terkontaminasi. Memasukkan kepala ke dalam air atau masuk ke air dengan luka terbuka atau kulit lecet juga menaikkan risiko terkena penyakit.
  • Memakan makanan yang terpapar air yang terkontaminasi atau punya kemungkinan terkena urine dari hewan yang terkontaminasi. 

Gejala Leptospirosis

Orang yang terinfeksi bakteri leptospira dapat mengalami gejala-gejala tertentu. Biasanya gejala leptospirosis akan dimulai pada hari ke-5 sampai ke-14 setelah kontak dengan bakteri tersebut. Meski begitu, gejala penyakit leptospirosis juga bisa muncul di antara hari ke-2 hingga hari ke-30 setelah kontak dengan bakteri. 

Leptospirosis termasuk punya gejala yang mirip dengan dengan penyakit lain. Menurut Pan American Health Organization (PAHO), penyakit ini dapat menimbulkan gejala yang sedang hingga serius. Dari gejala-gejala tersebut, ia dapat dipecah menjadi empat kategori klinis, termasuk di antaranya:

  • Penyakit sedang mirip influenza
  • Weil’s syndrome dengan ciri penyakit kuning (kulit dan mata menguning), gagal ginjal, pendarahan dan miokarditis (peradangan otot jantung) dengan aritmia (irama jantung yang tidak normal)
  • Meningitis/meningoencephalitis (peradangan pada membran pelindung otak dan sumsum tulang belakang)
  • Perdarahan paru-paru dengan kegagalan pernafasan

Gejala awal leptospirosis sendiri termasuk:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Mata merah
  • Muntah
  • Diare
  • Sakit perut
  • Penyakit kuning 
  • Kulit ruam
  • Batuk

Diagnosa Leptospirosis

Sering kali gejala leptospirosis mengalami kekeliruan dengan penyakit umum lain. Gejalanya pun sering disamakan dengan penyakit dengue dan demam berdarah yang umum terjadi di wilayah tropis. 

Seseorang bisa didiagnosa mengidap leptospirosis kalau ia memperlihatkan gejala mendadak di awal penyakit berupa:

  • Demam dan menggigil
  • Conjunctival suffusion (bagian mata memerah)
  • Sakit kepala
  • Myalgia (nyeri otot)
  • Penyakit kuning

Diagnosa juga dapat diperkuat bila orang tersebut memiliki riwayat kontak dengan binatang yang terinfeksi atau lingkungan yang punya potensi terkena urine binatang terinfeksi. Ada baiknya langsung menghubungi dokter jika gejala leptospirosis muncul.

Cara Pencegahan Leptospirosis

Terkadang kita harus menerjang banjir atau melakukan aktivitas yang memaksa kita harus berhadapan dengan risiko leptospirosis. Untuk itu, kita perlu mengetahui cara pencegahan yang benar agar mengurangi kemungkinan terkena penyakit kencing tikus. Beberapa caranya adalah:

  • Pastikan air yang kita minum sudah bersih. Rebus air tersebut atau aplikasikan bahan kimia untuk memurnikan air dari bakteri, terutama bila air diambil dari sumber yang terkontaminasi urine binatang atau air banjir yang tercampur dengan air buangan rumah tangga dan bahan kontaminasi lainnya.
  • Tutupi bekas luka dan lecet dengan perban anti-air atau penutup lainnya yang menahan agar air tidak masuk.
  • Sebisa mungkin jangan menerjang, berenang, mandi, menenggelamkan kepala, atau menelan air banjir atau sumber air lainnya yang mungkin terkena urine binatang yang terinfeksi atau air sisa dan buangan rumah tangga.
  • Gunakan pakaian dan alas atau sepatu bot sebagai pelindung anti-air di area banjir atau sumber air atau tanah yang mungkin terkontaminasi urine binatang.
  • Cegah infeksi hewan pengerat dengan menjaga makanan, air, dan sampah di tempat yang tertutup. Memasang perangkap untuk hewan pengerat juga jadi cara pencegahan yang bagus. 
  • Hindari makan makanan yang mungkin telah tersentuh hewan pengerat. 

Pengobatan Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang tidak boleh dianggap remeh begitu gejalanya mulai terlihat. Tanpa adanya penanganan, gejala tersebut dapat menjadi lebih parah dan kondisi akan semakin serius.

Pasien yang tidak tertangani dengan tepat dapat mengembangkan penyakit gagal ginjal dan hati, meningitis, sesak nafas, serta perdarahan. Keadaan yang semakin parah malah dapat berujung pada kematian.

Karena kondisi pengidap bisa semakin ganas, ada baiknya ia langsung diberikan pengobatan leptospirosis di awal terlihatnya gejala. Dokter yang menangani akan memberikan antibiotik yang dapat mencegah penyakit semakin parah dan menurunkan lamanya seseorang terjangkit penyakit tersebut. Pada dasarnya, penanganan yang dilakukan sesegera mungkin akan membuahkan hasil yang paling efektif.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan insiden banjir yang besar dan sering kali terjadi. Buruknya sistem saluran air dan kesehatan lingkungan pun semakin memperburuk keadaan bila banjir terjadi. Tidak heran bila leptospirosis adalah salah satu penyakit dengan angka yang cukup besar di Indonesia. 

Menurut laporan WHO, pada 2019 saja sudah ada 920 kasus dan 122 diantaranya dinyatakan meninggal. Mirisnya, kota besar seperti Jakarta termasuk wilayah terbesar yang terkena kasus tersebut. Pengenalan penyakit leptospirosis adalah jalan yang baik agar orang-orang bisa lebih sadar dan mencegah penyebaran penyakit tersebut serta semakin ingin menerapkan gaya hidup yang sehat. 

Baca juga:

Jangan Panik, Lakukan Ini Jika Anak Terinfeksi Chikungunya

Anda Mudah Sakit? Mungkin Ini Penyebabnya

10 Cara Menjaga Kesehatan Saat Musim Hujan

Ingin tahu apakah gaya hidup kamu sudah sehat? Unduh aplikasi Jovee sekarang! Dengan Jovee, kamu bisa melihat rekomendasi vitamin dan suplemen sesuai kebutuhan personalmu. Hidup bahagia dan sehat bareng Jovee. 

Penulis: Arofah Hafizh A.

 

Referensi:

CDC. 2018. Hurricanes, Floods and Leptospirosis.

AVMA. n.d. Leptospirosis.

WHO. n.d. Leptospirosis.

Mayo Clinic. 2020. Myocarditis.

PAHO. n.d. Leptospirosis.

NIH. n.d. Arrhythmia.

CDC. 2020. Meningitis.

Wulandari E. 2020. Leptospirosis prevention and control in Indonesia.

Brands