fbpx

Mengenal Tes Covid-19: Dari Antigen Swab Test hingga Antibodi

by | Jan 6, 2021 | Kesehatan Lainnya | 0 comments

Dalam usaha untuk mengenali dan mengendalikan penyebaran virus Covid-19, dilakukanlah tes untuk mengetahui individu mana yang terkena virus atau tidak. Hingga kini, ada tiga macam tes yang dikenal secara luas di Indonesia: antigen swab test, PCR test, dan tes antibodi. Namun, di antara tes tersebut, tahukah kamu kalau salah satunya tidak bisa dipakai untuk mendiagnosa seseorang yang sedang terjangkit virus?

Perbedaan Masing-masing Tes Covid-19

Baik itu, antigen swab test, PCR test, ataupun tes antibodi, ketiga tipe tes Covid-19 ini menawarkan perbedaan pada hasil tesnya. Hal utama yang membedakan mereka adalah subjek tes yang diambil sampai alat pengujian yang digunakan. Berikut rangkuman faktor utama yang membedakan ketiga tes Covid-19. 

antigen-swab-test

Metode dan Tujuan Tes Covid-19

Jika dilihat dari perbedaan di atas, macam-macam tes ini dapat dipisah menjadi dua jenis tes.

Tes Diagnosis

Tes berikut ini dapat menunjukkan apakah individu sedang terkena infeksi virus Corona aktif. Jika iya, individu tersebut harus mengambil langkah karantina atau isolasi diri dari orang lain. Sekarang ini, ada dua macam tes diagnosis, tes PCR yang mendeteksi materi genetik virus dan antigen swab test yang memeriksa adanya protein yang dimiliki virus tersebut. 

Menurut dr. Irma Lidia, tim dokter Jovee, “Sampai sekarang untuk penegakan diagnosa Covid-19 masih memakai tes swab PCR. Sehingga, mungkin saja tetap akan dilakukan tes swab PCR (pada individu) walaupun sudah melakukan tes swab antigen.”

Tes Antibodi

Tes antibodi atau tes serologi ditujukan untuk mencari antibodi yang dibuat oleh sistem imun tubuh sebagai respon terhadap ancaman seperti virus. Antibodi sendiri berperan dalam melawan infeksi. Zat ini terbentuk dalam waktu yang tidak sebentar, yakni sekitar beberapa hari atau malah berminggu-minggu. 

Antibodi berkembang setelah tubuh terkena infeksi dan ia mungkin bersarang di darah selama beberapa minggu atau lebih setelah masa pemulihan. Karena hal ini pula, tes antibodi tidak dianjurkan untuk mendiagnosis Covid-19. Sebaliknya, ia lebih ditujukan untuk memperlihatkan apakah individu pernah terjangkit Covid-19 sebelumnya dan telah membentuk antibodi terhadap virus tersebut.

Meski begitu, sampai sekarang para peneliti belum mengetahui apakah keberadaan antibodi menandakan tubuh yang imun terhadap Covid-19 atau tidak nantinya. 

Mengenal Masing-masing Tes Covid-19

PCR (Polymerase Chain Reaction)

antigen-swab-test

PCR atau disebut juga Nucleic acid amplification test (NAAT) atau tes molekul adalah tes yang dilakukan dengan mengambil swab dari rongga nasofaring orang dalam pemantauan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP). Tes PCR dilakukan dengan memastikan apakah seseorang terkena infeksi dengan mendeteksi asam ribonukleat (RNA) dari virus Covid-19. 

Dalam penerapannya, tes PCR yang disebut paling akurat menurut WHO adalah tipe RT (reverse transcription). Meski begitu, tes ini tidaklah mudah dan membutuhkan banyak tenaga ahli dengan teknologi pendukung yang lengkap. Karena keakuratan dan penanganan berbiaya tinggi, tes RT-PCR sering diganti dengan teknologi PCR point-of-care (POC). Teknologi alternatif ini punya akurasi hampir serupa dan bisa memberi hasil dalam 7 menit. 

Di Indonesia, POC-PCR ini diterapkan dalam tes molekular cepat (TMC) yang menggunakan alat diagnosis tuberkulosis dan dilakukan di lab dengan standar yang tidak sebaik RT-PCR. 

Dilansir dari laman S.C. Department of Health and Environmental Control, ada batasan yang dimiliki tes PCR, di antaranya:

  • Virus harus ada di tingkat yang cukup tinggi agar bisa dideteksi. Sebab, reaksi akan melambat antara saat seseorang terpapar virus dan saat tingkat virus mulai menjadi tinggi untuk bisa dinyatakan positif.
  • Hasil tes negatif tidak menutup kemungkinan seseorang menjadi sakit akibat infeksi virus. Jika seseorang melakukan tes terlalu dini setelah terpapar virus, ia bisa mendapat hasil negatif meskipun kenyataannya ia terjangkit virus. Hal ini juga jadi alasan mengapa seseorang tidak boleh memperpendek waktu isolasi atau karantinanya.
  • Tes yang positif tidak selalu menandakan seseorang masih rentan virus. Waktu gejala atau pengambilan tes harus dipertimbangkan untuk menentukan apakah seseorang masih dapat menyebarkan virus. 

Antigen Swab Test

antigen-swab-test

Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel swab dari hidung. Meski caranya mirip dengan PCR, tes antigen tidak mendeteksi adanya materi genetik dari virus Covid-19 melainkan protein dari bagian terluar virus. Tes ini juga sering disebut rapid test karena hasilnya yang bisa diambil dalam waktu yang relatif singkat hingga kurang dari 30 menit.

Tes antigen juga memiliki keterbatasan. Ia tidak dapat mendeteksi tingkat rendah dari virus dan dapat memberikan hasil negatif yang keliru. Selain itu, ada juga kemungkinan hasil positif palsu di wilayah yang sedikit terjangkit virus.

Tes Antibodi atau Serologi

antigen-swab-test

Pengujian yang satu ini dilakukan dengan mengambil sampel darah dan mendeteksi adanya antibodi yang dihasilkan tubuh sebagai cara untuk melawan infeksi virus. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tes antibodi lebih ditujukan untuk menentukan apakah seseorang telah terkena virus Covid-19 sebelumnya. Karena itu, tes ini tidak direkomendasikan untuk mengetahui apakah seseorang sedang terinfeksi. 

Tes antibodi memiliki batasan pada waktu deteksinya. Ia tidak bisa dijadikan alat deteksi dini karena memerlukan 1-3 minggu setelah paparan virus agar antibodi menjadi naik hingga tingkat yang tinggi untuk bisa diperiksa. Kemungkinannya, seseorang bisa sedang terinfeksi virus tapi hasil tes antibodinya memberi hasil negatif. Karena itu, terkadang perlu dilakukan tes kedua saat seminggu setelah tes pertama.

Meski antibodi merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap infeksi virus, hasil tes ini tidak bisa dijadikan patokan apakah seseorang dinyatakan imun terhadap infeksi virus atau tidak. Orang yang positif punya antibodi pun tetap perlu melakukan tindakan pencegahan terhadap penyebaran virus.

Apa Langkah Selanjutnya Setelah Tes Covid-19?

antigen-swab-test

Melansir dari laman CDC, jika individu mendapat hasil positif Covid-19, ia perlu mengetahui langkah perlindungan, terlebih kalau ia jatuh sakit. Jika ia mengalami gejala Covid-19 pada level sedang, ia dapat beristirahat dan memulihkan diri di rumah tanpa pengawasan medis. Lain halnya dengan individu dengan gejala parah yang butuh penanganan medis secara cepat.

Di sisi lain, jika individu mendapat hasil negatif Covid-19, kemungkinannya ia tidak terinfeksi virus pada waktu sampelnya diambil. Hal ini tidak berarti ia aman dari penyakit atau gejala Covid-19.

Ada kemungkinan juga bila sampelnya diambil terlalu dini sehingga infeksi yang sebenarnya terjadi malah tidak terdeteksi. Dengan kata lain, seseorang bisa terkena virus bahkan setelah dites dan punya kemungkinan menyebarkannya ke orang lain. 

Jika ada gejala yang muncul setelah dites negatif, ada perlunya dijalankan tes lagi untuk memastikan adanya infeksi virus penyebab Covid-19. 

Setelah mengetahui perbedaan antigen swab test, PCR test, dan tes antibodi, kini kamu bisa paham dan mengerti tes mana yang sebaiknya kamu ambil. Kamu pun juga bisa merencanakan langkah yang perlu dilakukan jika kamu sudah melakukan tes nantinya. 

Baca juga:

Ketahui Gejala Baru Infeksi Coronavirus pada Anak, Apa Saja?

Cegah Penularan COVID-19 di Lingkungan Kerja Rumah Sakit

Tips Mencegah Infeksi Coronavirus pada Anak

Ingin tahu apakah gaya hidup kamu sudah sehat? Unduh aplikasi Jovee sekarang! Dengan Jovee, kamu bisa melihat rekomendasi vitamin dan suplemen sesuai kebutuhan personalmu. Hidup bahagia dan sehat bareng Jovee. 

Penulis: Arofah Hafizh A.

 

Referensi:

WHO. 2020. Episode #14 – COVID-19 – Tests.

FDA. 2020. Coronavirus Disease 2019 Testing Basics.

KompasTV. 2020. Ini Beda Rapid Test Antigen, Rapid Test Antibodi dan PCR. 

Kawal Covid19. 2020. Rapid test atau swab test: Apa bedanya? Mana yang lebih baik?

SCDHEC. n.d. COVID-19 Testing Type Information.

Brands