fbpx
BerandaKesehatan LainnyaMengulas Seputar Pengembangan Vaksin Covid-19

Keberadaan vaksin Covid-19 yang sudah mulai didistribusi pemerintah Indonesia pada beberapa waktu lalu menjadi angin segar akan penanganan pandemi yang kian meresahkan ini. Namun, di balik pemberian vaksin tersebut, masih ada pula yang masih ragu terhadap penggunaan vaksin dan efikasi yang diberikannya. Pada artikel kali ini, kita akan membahas seputar pengembangan vaksin Covid-19 dan strategi terhadap pembuatan vaksin dan pemberiannya.

vaksin-covid-19

Vaksinasi dan Herd Immunity

Kandungan dan Cara Kerja Vaksin

Vaksin menyimpan kandungan utama sub-bagian dari patogen, biasa disebut antigen. Patogen sendiri bisa berupa bakteri, virus, parasit, atau fungus (jamur) yang menyebabkan infeksi atau penyakit. Terkait wabah yang sedang ramai ini, kita mengenal patogen sebagai strain baru novel coronavirus yang sekarang ini menyebabkan pandemi Covid-19.

Ada alasan mengapa vaksin mengambil sub-bagian atau blueprint dari patogen itu sendiri. Alasan utamanya ialah sub-bagian itu dapat memicu tubuh untuk membuat antibodi. Di sisi lain, bagian patogen ini telah dipastikan tidak akan menimbulkan penyakit karena telah dilemahkan atau dimatikan sebelumnya.

Antibodi yang terbentuk dari respon terhadap sub-bagian patogen akan memberikan sistem imun baru. Imun itulah yang seterusnya akan melawan patogen tersebut. Namun, dalam pembentukan imun baru terhadap satu patogen spesifik membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Inilah mengapa setelah pemberian vaksin Covid-19, seseorang harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.

Alasan Vaksin Diberikan secara Berkala

Ada beberapa vaksin sebelumnya yang diberikan secara berkala atau lebih dari sekali. Hal ini dimaksudkan agar tubuh dapat membentuk antibodi berumur panjang dalam membasmi virus atau patogen. Selain itu, antibodi dapat mengembangkan sel memori yang bisa menangkal patogen lebih cepat daripada saat pertama kali menghadapinya.

Melansir laman Satgas Penanganan Covid-19, vaksin Covid-19 produksi Sinovac sendiri memerlukan dua dosis yang disuntikkan dalam interval 14 hari. Jika tujuan yang pertama adalah memicu respon imun awal atau antibodi, dosis kedua diberikan untuk menguatkan respon antibodi. Interval 14-28 hari dari suntikan pertama tersebut dianjurkan agar hasil optimal bisa didapatkan.

Berbagai Vaksin Covid-19 yang Digunakan di Indonesia

Selain Sinovac, ada enam vaksin Covid-19 lainnya yang akan digunakan Indonesia menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/12758/2020. Enam vaksin tersebut adalah vaksin produksi PT Bio Farma, Oxford-AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax, dan Pfizer-BioNTech. Ketujuh vaksin yang sedang dan akan digunakan di Indonesia pun memiliki perbedaan, terutama dalam hal komposisi dan pemberiannya.

Dari ketujuh vaksin tersebut, hanya vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech yang komponennya menggunakan bagian materi genetik dari virus, bukan keseluruhan patogen yang telah dilemahkan atau dimatikan seperti vaksin lainnya. Jenis vaksin asam nukleat ini merupakan pendekatan terbaru dari pengembangan vaksin yang berbeda dengan vaksin sebelumnya.

Vaksin Untuk Herd Immunity

vaksin-covid-19

Orang yang telah diberikan vaksin Covid-19 akan memiliki kekebalan terhadap infeksi virus. Meski begitu, tidak semua orang punya kesempatan untuk bisa divaksinasi. Orang dengan sistem imun yang lemah seperti pengidap HIV atau kanker atau yang punya alergi terhadap komponen vaksin tertentu tidak dapat diberikan vaksin.

Walau begitu, tujuan dari pemberian vaksin bukan hanya untuk melindungi individu tapi juga kelompok. Saat banyak orang yang sudah divaksinasi dalam sebuah komunitas, virus atau patogen lainnya akan sulit menyebar karena banyaknya orang yang telah imun. Sama halnya dengan orang yang menerapkan protokol kesehatan. Tujuan pemberian vaksin dalam skala besar inilah yang disebut herd immunity.

Herd immunity juga sangat penting bagi orang yang lebih rentan terhadap penyakit Covid-19. Perlu diketahui bila tidak ada vaksin yang dapat memberikan proteksi 100%. Penerapan herd immunity pun tidak menawarkan perlindungan penuh untuk mereka yang tidak bisa divaksinasi. Namun, orang-orang tersebut punya pertahanan substansial dari mereka yang telah divaksinasi.

Pengembangan Vaksin

Sejarah Singkat Vaksin

Vaksin Covid-19 bukanlah jenis vaksin pertama yang digunakan untuk menangkal virus atau patogen lainnya. Sebelumnya sudah ada vaksin cacar, TBC, Hepatitis B, difteri, tetanus, hingga vaksin terbaru untuk kanker serviks.

Bahkan, vaksin telah ada sejak 1796 ketika Edward Jenner mendemonstrasikan efek positif vaksin bagi imunitas tubuh terhadap penyakit cacar yang menjadi permasalahan global kala itu. Selain itu, ada pula penemuan dua vaksin pada 1950 untuk penyakit polio yang telah menyebabkan pandemi sejak awal 1900. Setelah beberapa dekade lamanya, sebagian negara telah mendapat akses terhadap imunisasi polio, termasuk benua Afrika yang telah dinyatakan bebas dari virus polio pada Agustus 2020 lalu.

Tahapan Pengembangan Vaksin

vaksin-covid-19

Dari laporan WHO, setidaknya ada tiga tahapan dalam pengembangan dan pengujian sebuah vaksin hingga bisa dinyatakan aman untuk didistribusikan. Tahapan yang dilalui sangatlah ketat. Tiap vaksin perlu pertama kali melalui screening dan evaluasi untuk memastikan antigen mana yang harus digunakan untuk memicu respon imun.

Tahapan pertama ini disebut tahap pra-klinis. Pada tahapan ini juga tes dilakukan tanpa partisipan manusia. Tes pertama kali diujikan kepada binatang untuk menilai seberapa aman dan potensialnya vaksin dalam mencegah penyakit. Ketika vaksin berhasil mengaktifkan respon imun, saat itu pula vaksin siap diujikan dalam percobaan terhadap manusia dalam tiga fase.

  • Fase 1. Pada fase ini, vaksin akan diberikan kepada kelompok kecil partisipan untuk menilai tingkat keamanan, apakah dapat merespon imun atau antibodi, dan menentukan dosis yang tepat. Umumnya, partisipan berasal dari kelompok usia dewasa muda yang sehat.
  • Fase 2. Vaksin yang telah lulus fase 1 kemudian diberikan kepada ratusan partisipan untuk menilai lebih jauh tingkat keamanan dan kemampuannya dalam memicu respon imun. Pada fase ini pula biasanya dilakukan beberapa percobaan dengan kelompok usia dan formula vaksin yang berbeda. Kelompok yang tidak mendapat vaksin juga dimasukkan sebagai pembanding untuk menilai apakah perubahan yang terjadi setelah pemberian vaksin didasarkan pada vaksin itu sendiri atau hanya kebetulan.
  • Fase 3. Vaksin diberikan pada skala yang lebih luas, mencakup hingga ribuan partisipan yang juga dibandingkan dengan kelompok pembanding. Sering kali percobaan fase ketiga dilakukan di banyak negara dan beberapa tempat di dalam satu negara untuk memastikan bila vaksin baru bisa diaplikasikan kepada banyak populasi yang berbeda.

Setelah semua fase selesai, ada urutan langkah lagi yang harus dilalui sebuah vaksin. Di antaranya termasuk penilaian atas efikasi, keamanan regulasi, dan persetujuan akan kebijakan dari badan kesehatan masyarakat.

Sebuah vaksin harus dibuktikan tingkat keamanan dan efektivitasnya di antara populasi yang berbeda sebelum akhirnya disetujui dan diperkenalkan dalam program imunisasi nasional. Monitor lebih lanjut dilakukan pula setelah vaksin diperkenalkan. Hal ini memungkinkan peneliti untuk melacak dampak yang diberikan dari vaksin dan keamanannya dalam jangka waktu penggunaan yang panjang.

Seperti yang disebutkan The Jakarta Post, fase ketiga pengujian vaksin Sinovac dimulai pada Agustus 2020 atas kerja sama dengan PT Bio Farma. Hingga akhirnya sekarang, vaksin tersebut telah disetujui BPOM dan diperkenalkan dengan suntikan pertama dan kedua kepada Presiden Joko Widodo yang kemudian didistribusikan secara massal.

Mengapa Pengembangan Vaksin Covid-19 Tergolong Cepat?

Setelah vaksin covid-19 Sinovac diperkenalkan dan didistribusikan di Indonesia, ada beberapa pihak yang mempertanyakan keamanan dan kualitas dari vaksin tersebut. Hal itu terdengar lumrah mengingat vaksin baru umumnya bisa didistribusikan dan digunakan secara massal setelah melewati pengembangan yang bisa berjalan hingga dekade lamanya.

Kasus Covid-19 yang menyebar pesat sampai dapat melumpuhkan berbagai sektor kehidupan ini membuat WHO dalam program bernama Emergency Use Listing Procedure (EUL) memperbolehkan penggunaan darurat vaksin. Pengembangan vaksin pun dipercepat namun dengan menerapkan metode yang sama.

Dalam pencarian vaksin Covid-19, para periset dan pihak pengembang bekerja dalam fase-fase yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, kali ini dilakukan lewat prosedur paralel untuk mempersingkat waktu. Pemantauan pun tetap dilakukan bahkan setelah vaksin sudah diperkenalkan dan didistribusikan.

Prioritas dan Jadwal Vaksinasi Covid-19

vaksin-covid-19

Dalam surat Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka

Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), diketahui jadwal vaksinasi Covid-19 akan dilakukan dalam empat tahapan dengan mempertimbangkan ketersediaan, waktu kedatangan, dan profil keamanan vaksin.

Adapun kelompok prioritas penerima vaksin adalah penduduk yang berdomisili di Indonesia dengan usia ≥ 18 tahun. Kelompok di bawah usia tersebut dapat diberikan vaksinasi apabila telah tersedia data keamanan vaksin yang cukup dan adanya persetujuan penggunaan vaksin darurat.

Berdasarkan surat edaran tersebut, tahapan pemberian vaksin dan prioritas dibagi dalam tahapan berikut:

Tahap 1 (Januari-April 2021)

Pemberian vaksin diprioritaskan kepada tenaga kesehatan dahulu sebagai garda terdepan penanganan Covid-19. Lebih lengkapnya lagi, tahapan pertama pemberian vaksin meliputi:

  • Tenaga kesehatan
  • Asisten tenaga kesehatan
  • Tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi kedokteran yang bekerja pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Tahap 2 (Januari-April 2021)

Jadwal vaksin PNS dan TNI termasuk dalam pemberian vaksin tahap 2. Prioritas tahap kedua ini di antaranya:

  • Petugas pelayanan publik yaitu Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat hukum, dan
  • Petugas pelayanan publik lainnya, meliputi petugas bandara/pelabuhan/stasiun/terminal, perbankan, perusahaan listrik negara, dan perusahaan daerah air minum, serta
  • Petugas lain yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat
  • Kelompok lansia (≥ 60 tahun) juga termasuk dalam tahap 2

Tahap 3 (April 2021-Maret 2022)

Vaksinasi tahap ketiga ini diperuntukkan untuk masyarakat rentan dari segi geospasial, sosial, dan ekonomi.

Tahap 4 (April 2021-Maret 2022)

Tahap keempat ini ditargetkan untuk masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan klaster sesuai ketersediaan vaksin.

Tiga Kelompok Vaksinasi Tahap Pertama

Selain yang terkandung dalam pernyataan di atas, Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan ada tiga kelompok yang akan mendapatkan penyuntikan pertama vaksin, di antaranya:

  • Kelompok 1, terdiri dari pejabat publik pusat dan daerah
  • Kelompok 2, pengurus asosiasi tenaga kesehatan dan pimpinan kunci institusi kesehatan di daerah
  • Kelompok 3, kalangan tokoh agama di daerah

Setelah tiga kelompok ini memperoleh vaksin Covid-19, program vaksinasi selanjutnya akan diterapkan secara bertahap dan merata.

Kriteria Orang yang Tidak Boleh Divaksinvaksin-covid-19

Dilansir dari laman Detikhealth, berikut daftar orang yang tidak boleh divaksin Covid-19 berdasarkan petunjuk teknis (juknis) resmi dari Kemenkes, di antaranya:

  • Pernah terkonfirmasi Covid-19.
  • Ibu hamil dan menyusui.
  • Mengalami gejala ISPA (infeksi saluran pernafasan akut). Tim Dokter Jovee Irma Lidia menyebut bila status kondisi ini ditunda dulu pemberian vaksinnya.
  • Anggota keluarga serumah yang sedang kontak erat, suspek, konfirmasi, atau perawatan karena penyakit Covid-19.
  • Memiliki riwayat alergi berat setelah vaksinasi Covid-19 sebelumnya (untuk suntikan kedua).
  • Sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah.
  • Mengidap penyakit jantung.
  • Mengidap penyakit autoimun sistemik.
  • Mengidap penyakit ginjal, sedang menjalani hemodialisis atau dialisis peritoneal, transplantasi ginjal, sindrom nefrotik dengan kortikosteroid.
  • Mengidap penyakit rematik autoimun atau rheumatoid arthritis.
  • Mengidap penyakit saluran pencernaan kronis.
  • Mengidap penyakit hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun.
  • Mengidap diabetes melitus, dr. Lidia menyebut bila penderita diabetes melitus tipe 2 yang terkontrol dapat diberikan vaksin.
  • Mengidap HIV.
  • Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.

Setelah memahami apa itu vaksin Covid-19, sekiranya kita bisa memberikan respon yang baik terhadap salah satu tindakan penanganan pandemi yang begitu penting ini. Hal yang harus diperhatikan pula, baik saat sudah divaksin ataupun belum, adalah tetap mengikuti protokol kesehatan berupa 3M: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Di sisi lain, dr. Irma juga mengatakan, “selain hal tersebut, penderita penyakit kronis sebaiknya tetap mengonsumsi obatnya dan rutin kontrol dengan memperhatikan keamanan atau protokol kesehatan agar kondisi kesehatannya terjaga.”

Vaksin sekalipun bukanlah obat yang dapat mengobati penyakit Covid-19 melainkan hanya meningkatkan perlindungan terhadap infeksi virus. Tapi, banyaknya orang yang melakukan imunisasi sampai terciptanya herd immunity menjadi sebuah harapan agar pandemi ini bisa segera ditekan hingga pada akhirnya dihilangkan. Untuk mencapai herd immunity, hal ini tentu harus didukung dengan memperkuat imun tubuh, Every Day Vit – Multivitamin & Omega 3 untuk Daya Tahan Tubuh (Rp185.000) bisa menjadi pilihan untuk menjaga daya tahan tubuh.

Baca juga:

Mengenal Tes Covid-19: Dari Antigen Swab Test hingga Antibodi

Cegah Penularan COVID-19 di Lingkungan Kerja Rumah Sakit

Apa Itu Vaksin Corona AstraZeneca?

Bahagia dan Sehat Bareng Jovee

Ingin tahu info menarik seputar gaya hidup sehat? Simak selengkapnya di Jovee. Unduh juga aplikasi Jovee untuk mendapatkan rekomendasi suplemen personal secara instan. Kamu juga bisa berkonsultasi dengan nutrisionis Jovee secara gratis. Dapatkan beragam vitamin, dari A hingga Z(inc) hanya di Jovee.

Referensi

Pertanyaan Seputar Jovee

+

Apa itu Jovee?

+

Apa yang membuat Jovee berbeda dengan yang lain?

+

Apa saja metode pembayaran yang tersedia di Jovee?

+

Berapa lama pengiriman vitamin saya?

+

Apakah Jovee memberikan gratis ongkir?

Logo

Dapatkan Vitamin sesuai Kebutuhanmu dengan Konsultasi GRATIS lewat Nutrisionist kami

Yuk, segera

Konsultasi Sekarang

Callback
Logo

Dapatkan Vitamin sesuai Kebutuhanmu dengan Konsultasi GRATIS lewat Nutrisionist kami

Konsultasi Sekarang

Jaminan Jovee untuk Anda

Icon

100% Original

Semua Produk yang kami jual terjamin keasliannya dengan kualitas terbaik.

Icon

Dijamin Lebih Murah

Kami menjamin akan mengembalikan uang dari selisih perbedaan harga.

Icon

Gratis Ongkir

Tak perlu antre. Kami kirim ke alamat Anda. GRATIS*

Artikel Terkait

pakai-koyo-saat-hamil

Bolehkah Pakai Koyo Saat Hamil?

Kesehatan Lainnya   29/08/2022
ciri-ciri-jerawat-akan-sembuh

Seperti Apa Ciri-ciri Jerawat Akan Sembuh?

Kesehatan Lainnya   26/08/2022
sakit-kepala-di-bagian-belakang

Sakit Kepala Bagian Belakang: Penyebab & Cara Mengatasi

Kesehatan Lainnya   24/08/2022
mimisan-saat-hamil

Sering Mimisan Saat Hamil? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kesehatan Lainnya   23/08/2022
toxic-relationship-adalah

Kenali Penyebab Utama dan Cara Penularan HIV/AIDS

Kesehatan Lainnya   22/08/2022